Blog posts

Trend Baru di Indonesia – “Persekusi”. Apaan Tuh ?

Trend Baru di Indonesia – “Persekusi”. Apaan Tuh ?

Opini

Seorang dokter di Sumatera Barat, Fiera Lovita, telah meminta perlindungan kepada kepolisian dan berencana meninggalkan Kota Solok, karena mengaku keselamatannya terancam. Ancaman itu diperolehnya setelah dia mengunggah status di laman Facebooknya yang isinya mengherankan sikap pimpinan Front Pembela Islam, FPI, Rizieq Shihab, dalam kasus dugaan pelanggaran Undang-undang Pornografi.

Akibat pernyataannya, perempuan berusia 40 tahun ini mengaku telah didatangi sekelompok orang yang mengaku anggota FPI dan meminta dirinya mencabut status tersebut dan meminta maaf.

Kejadian diatas baru baru saja terjadi di Indonesia, dimana kejadian tersebut diatas salah satu bentuk istilah Persekusi yang saat ini lagi ramai di bahas di kalangan netizen Indonesia dan juga menjadi perhatian di pihak kepolisian. Apa sih arti “Persekusi” ?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia : persekusi/per·se·ku·si/ /pérsekusi/ v pemburuan sewenang-wenang terhadap seorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah, atau ditumpas;

Jadi bisa dibilang, “Persekusi” adalah sebuah tindakan main hakim sendiri yang saat ini di kaitkan dengan konten penghinaan terhadap tokoh tertentu di media sosial. Belakangan muncul aksi persekusi terhadap orang-orang yang dianggap menghina tokoh agama, termasuk salah satu contohnya adalah Dokter  Fiera Lovita  yang menjadi korban persekusi di daerah Solok, Sumatera Barat.

Akankan Pelaku Persekusi Ditindak Tegas ?

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto memastikan Polri akan menindak tegas mereka yang main hakim sendiri atas konten penghinaan terhadap tokoh tertentu di media sosial. Belakangan muncul aksi persekusi terhadap orang-orang yang dianggap menghina tokoh agama.

“Kalau mereka melakukan itu, ya harus ditindak karena ada aturannya. Mereka tidak boleh menangkap,” ujar Setyo di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Senin (29/5/2017). – Sumber Detik.Com

Jadi persekusi saat ini sudah menjadi semacam trend di Indonesia untuk melakukan tindakan melawan hukum dengan main hakim sendiri terhadap pelaku dugaan penghinaan ulama di media sosial dengan cara melacak status orang-orang yang dianggap menghina tokoh agama, kemudian menginstruksikan massa untuk memburu target yang identitas dan foto hingga alamat rumah sudah diumbar ke publik.

Tak cukup sampai di situ, rumah atau kantor target juga digeruduk massa. Setelah itu, target dilaporkan ke polisi dengan ancaman Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Jadi berhati-hatilah membuat status di media sosial, meskipun media sosial ruang lingkupnya sempit, hanya sekedar teman-teman, keluarga dekat , relasi bisnis, tapi tidak menutup kemungkinan, orang yang berwawasan sempit di lingkaran teman-teman anda di media sosial, menjadi provokator untuk persekusi anda di media sosial…Be Aware…


Berikut beberapa tips dari Direktur Eksekutif ICT Watch, Donny B.U, soal beretika dalam menggunakan media sosial secara umum yang diambil dari Kompas.Com.

Menurut Donny, etika utama yang mesti dilakukan seseorang sebelum menulis komentar di media sosial adalah berpikir. Ya, sebelum jari Anda menekan tombol posting untuk menyebar pesan, meme atau artikel berita, mesti sudah Anda pikirkan dengan matang.

Think before posting. Karena orang kan mentang-mentang pakai media sosial, gadget, lalu seolah tidak berhadapan langsung dengan yang bersangkutan. Merasa tidak ada konsekuensi,” ujarnya kepada KompasTekno beberapa waktu yang lalu.

Donny juga menyarankan netizen untuk mempertimbangkan segala konten media sosial mereka berdasarkan tiga langkah ini.

1. Bayangkan mengucapkannya langsung

Sebelum mengunggah suatu pernyataan, komentar, berita atau meme, bayangkan Anda menyodorkan semua itu langsung di hadapan orang yang dituju. Bayangkan apakah saat itu Anda benar-benar bisa menyampaikannya atau justru merasa ragu karena takut menyinggung perasaan.

Bila keraguan yang timbul, sudah tentu hal tersebut tidak perlu diunggah karena mungkin saja akan menyinggung orang tertentu.

“Yang harus selalu diingat adalah pesan yang akan disampaikan itu sama dengan komunikasi face to face dengan orang bersangkutan. Kalau face to face mau ngomong begitu tidak, kalau tidak ya jangan (diunggah ke media sosial),” ujarnya.

2. Pikirkan manfaatnya

Jika merasa bahwa pernyataan, komentar, berita atau meme yang akan diunggah itu tidak akan menyinggung orang lain, pikirkan dulu soal manfaatnya. Apakah hal yang ingin disebarkan itu bermanfaat untuk orang lain atau ternyata tidak ada gunanya.

“Kita kan bisa memikirkannya, mengolah informasi. Kalau memang informasi itu benar, lalu ditimbang apakah perlu atau tidak, apakah memiliki manfaat atau tidak,” ujar Donny.

3. Cek fakta, cari informasi bandingan

Hal yang lebih penting, sebelum bicara di media sosial, Anda harus lebih dulu memahami fakta dan mengolah informasi tersebut.

Ada banyak alat yang bisa dipakai untuk mencari tahu dan membandingkan informasi yang Anda miliki. Bisa saja menggunakan Google atau media lain. Namun intinya, pernyataan atau hal yang akan diunggah ke media sosial itu jangan sampai hanya merupakan kabar bohong (hoax).

“Ini soal literasi digital, yaitu kemampuan mengolah atau memanfaatkan informasi di media sosial, baik melalui Twitter atau lainnya. Seseorang mesti tahu cara membatasi konten yang diperlukan dan memilih informasi,” terang Donny.

“Cek dan ricek, klarifikasi dulu. Hal seperti ini mestinya otomatis dilakukan,” pungkas Donny.

About the author

Aku adalah Aku. Aku bukan kamu, dia, atau mereka. Aku adalah Aku yang kan bersinar terang dengan jalanku tuk menyinari sekitar karena-Nya.” Just be your self, bersinarlah dengan caramu sendiri…..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *