Blog posts

Kekerasan Verbal Yang Berujung Pembunuhan, KDRT ?

Kekerasan Verbal Yang Berujung Pembunuhan, KDRT ?

Opini

Tak banyak orang tahu kalau verbal bullying atau penindasan yang dilakukan dengan kata-kata, pernyataan atau julukan tertentu ternyata memiliki efek yang lebih dahsyat dibandingkan dengan bullying yang dilakukan dengan kekerasan fisik. Sebab, menurut psikolog klinis Liza Marielly Djaprie, efeknya memang tidak terlihat tapi cukup ‘mematikan’

Kekerasan Verbal dalam kehidupan rumah tangga termasuk dalam Kekerasan Dalam Rumah Tangga alias KDRT. Dan ini terjadi dalam kasus Pembunuhan Pegawai BNN oleh suaminya yang lagi heboh saat ini.

Kekerasan dalam rumah tangga (disingkat KDRT) adalah tindakan yang dilakukan di dalam rumah tangga baik oleh suami, istri, maupun anak yang berdampak buruk terhadap keutuhan fisik, psikis, dan keharmonisan hubungan sesuai yang termaktub dalam pasal 1 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT). (academia.edu)

Jelas dari keterangan tersebut bahwa pelaku KDRT bisa berasal dari suami, istri, bahkan anak. Tindakan yang memberi dampak buruk terhadap kondisi fisik dan psikis juga terhitung sebagai tindak KDRT. Kalau dilihat dari kasus cekcok Indria dan Abdul soal keinginan Indria untuk memiliki mobil, tampak adanya tindak kekerasan verbal yang dilakukan oleh Indria terhadap Abdul. Belum lagi dengan keterangan dari pihak keluarga Abdul yang menyebutkan Abdul pernah mendapat luka memar.

Perempuan pun bisa jadi pelaku KDRT. Tindak kekerasan yang dilakukan tak hanya kekerasan fisik tapi juga non-fisik seperti kekerasan verbal dan kata-kata kasar. Hal ini jadi catatan dan pengingat sendiri untuk kita semua. Penting untuk selalu menjaga keharmonisan dalam rumah tangga tanpa menggunakan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan verbal.

Menurut Psikolog Forensik , Reza Indra Giri,  informasi awal dari polisi, bahwa antara Indria dan Akbar ada perselisihan. Pada pertengkaran itu, istri diduga dominan dan berbuat tindak kekerasan kepada suami. Kekerasan yang dilakukan istrinya itu, kata Reza, diduga dipendam oleh Akbar sudah terlalu lama. “Nah risikonya, perasaan sakit, pedih, menderita sudah menumpuk, meledak menjadi perilaku ekstrem,” ujar dia.

Dikutip dari hukumonline.com, UU KDRT juga telah memberikan larangan bagi setiap orang untuk melakukan kekerasan baik kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual maupun penelantaran rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya (lihat Pasal 5 UU KDRT). Kekerasan fisik yang dimaksud pasal tersebut adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat (lihat Pasal 6 UU KDRT) sehingga termasuk pula perbuatan menampar, menendang dan menyulut dengan rokok adalah dilarang.

Belum lagi dengan ancaman pidana terhadap kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga ini adalah pidana penjara pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 15 juta (lihat Pasal 44 ayat [1] UU KDRT). Siapa saja yang melakukan kekerasan dalam lingkup rumah tangga bisa dijatuhi hukuman yang cukup berat.

Kejadian nahas yang menimpa Indria memang sangat disesalkan. Abdul pun masih terus menjalani pemeriksaan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi, ya ladies, dan berhati hatilah dengan kekerasan Verbal dalam rumah tangga, karena kekerasan verbal bisa memicu kekerasan lainnya dalam kehidupan rumah tangga.

Image Source : netz.id

About the author

Aku adalah Aku. Aku bukan kamu, dia, atau mereka. Aku adalah Aku yang kan bersinar terang dengan jalanku tuk menyinari sekitar karena-Nya.” Just be your self, bersinarlah dengan caramu sendiri…..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *